PERBANDINGAN METODA SRI ORGANIK DENGAN METODA KONVENSIONAL

PERTANIAN SRI ORGANIK
No./ Deskripsi / Organic SRI
1./ Pupuk pengolahan lahan / Pupuk kompos
2./ Jarak tanam / 30x30 cm – 40x40 cm
3./ Air / Tanah macak-macak (sedikit air)
4./ Jumlah / Benih 5 Kg per Ha
5./ Pembenihan / di mampan dengan pemilihan benih bermutu
6./ Umur tanam benih /7- 10 hari
7./ Cara tanam Benih / tunggal, horizontal (“L”) dan dangkal
8./ Penyiangan / 4-5 kali per musim tanam
9./ Pestisida / Pestisida nabati dan pengelolaan hama terpadu
10./ Jumlah anakan per rumpun / 85 -120 anakan
11./ Jumlah malai per rumpun / 30 – 60 malai
12./ Jumlah bulir per malai / 200-260 bulir
13./ Masa Produksi / 100 hari
14./ Hasil Gabah Kering Pungut / 8 – 12 ton per hektar
15./ Beras yang dihasilkan / Beras Organik tanpa pestisida
16./ Harga Jual / Tinggi, dengan daya saing
17./ Return of Investment / 100%-200%
18./ Ramah Lingkungan / Ya, menjaga stuktur dan tekstur tanah

Manfaat dan Keuntungan Metoda SRI Organik:
Adapun manfaat dan keuntungan yang langsung dapat dilakukan oleh pelaku usaha pertanian padi dengan metoda SRI organik antara lain:

1. Peningkatan produksi hasil pertanian padi.
Dengan metoda SRI (System of Rice Intensification) organik dapat diperoleh hasil sekitar 8 ton - 12 ton Gabah Kering Pungut (GKP) per hektar. Hasil ini dapat diperbandingkan dengan metoda pertanian konvensional yang digunakan saat ini yaitu sekitar 4-6 ton GKP per hektar.

2. Menghasilkan produk ”Beras Organik” yang mempunyai nilai ekonomi bersaing.
Dengan menggunakan bahan organik dalam budidaya pertanian maka hasil produksi beras berkualistas organik yang tidak mengandung pestisida, dimana harga beras organik mempunyai nilai ekonomi lebih bersaing dibandingkan beras konvensional (mengandung pestisida) dimana pemasaran produk beras oragnik ini ditunjang oleh meningkatnya kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi bahan makanan sehat (organik).

3. Menjadikan”Petani Mandiri-Sejahtera-Ekologis-Berkelanjutan”.
Dengan menggunakan bahan pertanian berbasis organik, maka petani tidak tergantung oleh permainan harga pupuk urea, pestisida sintetik, dan lain sebagainya, dikarenakan petani dapat memproduksi bahan pertanian secara mandiri, yang pada akhirnya memberikan keuntungan ekonomis yang lebih baik bagi petani untuk mencapai taraf hidup yang sejahtera yang berwawasan lingkungan (ekologis) yang berkelanjutan (sustainable).



PERTANIAN KONVENSIONAL / NON SRI ORGANIK
No./ Deskripsi / Konvensional
1./ Pupuk pengolahan lahan / Pupuk sintetik
2./ Jarak tanam / 20x20 cm
3./ Air / Tanah direndam (banyak air)
4./ Jumlah Benih / 25 -30 Kg per Ha
5./ Pembenihan / Di sawah tanpa pemilihan benih bermutu
6./ Umur tanam benih / 20 – 30 hari
7./ Cara tanam / Benih banyak, vertikal dan dalam
8./ Penyiangan / 2 kali per musim tanam
9./ Pestisida / Pestisida sintetik
10./ Jumlah anakan per rumpun / 20-30 anakan
11./ Jumlah malai per rumpun / 20 malai
12./ Jumlah bulir per malai / 150 bulir
13./ Masa Produksi / 110 hari
14./ Hasil Gabah Kering Pungut / 4 – 6 ton per hektar
15./ Beras yang dihasilkan / Beras anorganik dengan pestisida
16./ Harga Jual / Rendah tanpa daya saing
17./ Return of Investment / 50% - 100%
18./ Ramah Lingkungan / Tidak dan merusak struktur dan tekstur tanah

Tanah yang terlalu banyak mengandung air menyebabkan berkurangnya udara dlm tanah, apa akibatnya? lamban nya proses pembusukan atau dekomposisi bahan organik, karena mikroba yang aerobik tidak berfungsi dengan baik pada suasanan anaerobik.

Makin jenuh tanah akan air maka kadar oksigen dalam tanah makin berkurang dengan sendirinya akan mempercepat :

  1. Reduksi nitrat,
  2. mereduksi besi
  3. mempertinggi kadar karbon dioksida
  4. menghasilkan persenyawaan-persenyawaan yang dapat mengikat besi dan mangan.
    Catatan : Hal ini disebabkan oleh berubahnya ferri fosfat yang tak larut menjadi ferro fosfat yang larut dalam keadaan tergenang. Makanya pemupukan fosfat pada sawah kurang nyata dibandingkan dengan tanah kering.

Kadar karbondioksida pada tanah yang tergenang relatif tinggi, lebih-lebih dengan adanya bahan organik. Tingginya kadar karbondioksida berbahaya bagi tanaman, walaupun terdapat oksigen dalam air.

Dengan tergenangnya tanah oleh air, maka proses penguraian bahan organik akan menjadi anaerob. Penguraian anaerob akan menghasilkan persenyawaan organik yang dapat mereduksi Ferri (Fe3+) menjadi Ferro (Fe2+) dan mengikat ferro membentuk lapisan kompleks yang stabil dan larut dalam air.

 

 

Bookmark and Share