Anda sekarang berada di halaman web: EVENTS

PENINGKATAN PRODUKSI PADI NASIONAL DAN PENGURANGAN EMISI GAS METAN DARI PADI SAWAH MELALUI PENERAPAN TEKNOLOGI SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION (S.R.I.)

PROGRAM INSENTIF
PERCEPATAN DIFUSI DAN PEMANFAATAN IPTEK

No. Pendaftaran On-line : DF-2009-3280
Fokus Bidang Prioritas : Ketahanan Pangan
Nama Koordinator : Prof. DR. Ir. Iswandi Anas, M. Sc.

Pemerintah Indonesia melalui Departemen Pertanian melakukan berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan beras dalam negeri. Salah satu teknologi yang sangat potensial untuk meningkatkan produksi beras nasional adalah Budidaya Padi System of Rice Intensification (S.R.I). Budidaya Padi S.R.I. telah diadopsi oleh banyak petani di 28 negara (Uphoff, 2004). Budidaya padi yang berasal dari Madagascar ini diperkenalkan pertama kali di Indonesia oleh Prof. Dr Norman Uphoff dari Cornell University, Amerika Serikat tahun 1997. Namun perkembangan Budidaya Padi S.R.I. di Indonesia terasa lambat.

Keuntungan lain dari penerapan Budidaya Padi S.R.I adalah mengurangi emisi CH4 karena sawah tidak digenangi. Hal ini merupakan keuntungan lain dari penerapan Budidaya Padi S.R.I. secara luas. Pemerintah Indonesia sudah menyatakan komitmennya untuk berpertisipasi aktif mengurangi emisi gas rumah kaca. Melalui penerapan Budidaya Padi S.R.I. secara luas, emisi metan dari sawah juga akan berkurang secara nyata sehingga secara nasional, Pemerintah Indonesia dapat menunjukkan berpartisipasi aktif dalam menurunkan emisi CH4.

Pada tahun pertama program difusi Budidaya Padi S.R.I, yang akan dilakukan: (1). Memperkenalan Budidaya Padi S.R.I. kepada petani melalui pembuatan petak percontohan (demonstration plot) di 5 lokasi di Kabupaten Bogor, Sukabumi dan Cianjur; (2) Melibatkan Ketua kelompok Tani dan petani maju secara langsung dalam kegiatan demonstration plot; (3) Memberikan pelatihan langsung kepada petani terpilih (15 petani/ketua kelompok tani); (4) Program bimbingan/pendampingan kepada petani yang sudah mengikuti pelatihan dalam pelaksanaan Budidaya Padi S.R.I. mulai dari penyiapan lahan, penyiapan benih sampai kepada Pasca Panen dan pemasaran hasil; (5) Melakukan supervisi kepada petani peserta secara berkala; (6) Mengadakan diskusi diantara petani pelaksana Budidaya Padi S.R.I. dengan melibatkan masyarakat umum.

Latar Belakang dan Pentingnya Difusi Budidaya Padi S.R.I.
Sejak tahun 1984 sampai sekarang, Indonesia belum pernah lagi berhasil mencapai Swa Sembada Beras. Setiap tahun, impor beras cenderung meningkat. Impor beras ini tidak saja menjadi masalah sosial tetapi berkembang menjadi masalah politik sehingga dapat mengganggu kestabilan politik dalam negeri. Pemerintah melakukan berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan beras dalam negeri. Departemen Pertanian membentuk Program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN). Tujuan dari program ini adalah meningkatkan produksi beras nasional sebanyak 2 juta ton. Sejak dua tahun yang lalu, Ditjen Tanaman Pangan mengembangkan Program Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) yang dalam penerapannya dilakukan melalui Sekolah Lapang Pengelolaan tanaman Terpadu (SL-PTT). Sampai tahun 2008, walaupun ada peningkatan produksi padi secara nasional, namun pemerintah belum merasa puas dengan hasil yang dicapai. Departemen Pertanian secara aktif mencari teknologi lain yang dapat membantu peningkatan produksi padi secara nasional.

Budidaya padi yang potensial untuk meningkatkan produksi beras nasional antara lain adalah System of Rice Intensification (S.R.I). Hampir 30 negara sudah mengadopsi Budidaya Padi S.R.I. (Uphoff, 2004; 2008a; 2008b). Budidaya padi ini berasal dari Madagascar dan diperkenalkan pertama kali di Indonesia oleh Prof. Dr Norman Uphoff dari Cornell University, Amerika Serikat melalui seminar di Balai Penelitian Padi (sekarang Balai Besar Penelitian Padi) Sukamandi tahun 1997. Namun karena berbagai alasan, Budidaya Padi S.R.I. dirasa tidak cepat berkembang. Keuntungan Budidaya Padi S.R.I. selain peningkatan hasil yang sangat menarik, penghematan penggunaan air merupakan salah satu keuntungan yang lain. Penghematan air ini sangat penting di kawasan Indonesia Bagian Timur. Oleh karena itu, sejak tahun 2002, Ditjen Irigasi Departemen PU melalui kerjasama dengan Pemerintah Jepang melalui Proyek DISIMP, mengintegrasikan Budidaya Padi S.R.I dalam program perbaikan irigasi. Sampai tahun 2007, Budidaya Padi S.R.I telah di dipraktekan oleh petani di beberapa propinsi di Indonesia Bagian Timur seperti di Propinsi Bali, NTB, NTT, Sulawesi Selatan, Gorontalo dan Sulawesi Tenggara. Lebih dari 13 ribu petani sudah melaksanakan Budidaya Padi S.R.I di lahan seluas lebih dari 9.000 ha. Peningkatan produksi padi rata-rata mencapai 78%, penghematan air sampai 40% serta penggunaan benih padi yang jauh lebih sedikit dan juga penghematan pemakaian pupuk (Sato, 2004; 2008; Iswandi, et al. 2008). Di daerah lain seperti di Jawa Barat dan Jawa Tengah, petani juga mengembangan Budidaya Padi S.R.I. namun kebanyakan petani hanya menggunakan pupuk organik saja sehingga Budidaya Padi S.R.I. ini dikenal dengan S.R.I. Organik(Alik, 2008; Sugiyanta, 2008). Peningkatan produksi padi, penghematan air dan pupuk juga dinikmati oleh petani padi yang menerapkan Budidaya Padi S.R.I. Organik ini. Namun jumlah petani yang menerapkan Budidaya Padi S.R.I. Organik ini masih terbatas. Bulan Juli 2007, Presiden Susilo B. Yudoyono bersama Menteri Pertanian telah melakukan panen Budidaya Padi S.R.I. Organik di Cianjur dan sekaligus mencanangkan Budidaya Padi S.R.I. sebagai Program Nasional. Di Sumatra Barat, dengan dimotori oleh Universitas Andalas, Budidaya Padi S.R.I. juga diperkenalkan di berbagai pelosok. Di daerah ini, Budidaya Padi S.R.I. dikenal dengan nama “Tanam Padi Sabatang”. Sekalo lagi, sekalipun pimpinan negara dan pimpinan lain sudah ikut serta dalam memperkenalkan Budidaya Padi S.R.I, namun masih dirasakan perkembangan Budidaya Padi S.R.I. masih sangat lambat.

Oleh karena penanaman padi menurut Budidaya Padi S.R.I sangat potensial untuk diadopsi oleh petani guna meningkatkan pendapatan petani, meningkatkan produksi padi nasional yang juga sekaligus berarti meningkatkan Program Ketahanaan Pangan Nasional. Selain itu, Budidaya Padi S.R.I. juga sangat nyata mengurangi emisi CH4. Bila Budidaya Padi S.R.I. diterapkan diareal yang luas, ini juga akan berarti pemerintah Indonesia sudah berpartisipasi dalam mengurangi emisi CH4. Mengingat begitu banyaknya manfaat penerapan Budidaya Padi S.R.I. ini, maka percepatan difusi Budidaya Padi S.R.I. ini kepada lebih banyak lagi petani di Indonesia, sangat perlu di percepat antara lain melalui Program Difusi IPTEk Kementerian Negara Riset dan Teknologi.

Tujuan Percepatan Difusi Budidaya Padi S.R.I.
Tujuan percepatan difusi Budidaya Padi S.R.I. adalah: (1). Untuk memperkenalkan Budidaya Padi S.R.I. kepada petani yang lebih banyak sebagai pilihan teknologi bagi petani; (2). Untuk meningkatkan produksi padi dan sekaligus pendapatan petani; (3) Untuk membantu program Ketahanan Pangan Pemerintah; (4). Untuk menunjukkan pelaksanaan komitmen pemerintah untuk melakukan tindakan nyata dalam mengurangi emisi gas rumah kaca seperti CH4 dari lahan padi sawah.

Sasaran Percepatan Difusi Budidaya Padi S.R.I.
Sasaran percepatan difusi Budidaya Padi S.R.I. ini adalah petani padi sawah di Kabupaten Bogor (Bogor dan Djasinga), Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Cianjur.

Lokasi Kegiatan Difusi Budidaya Padi S.R.I.
Kegiatan difusi Budidaya Padi S.R.I. akan dilakukan di Kabupaten Bogor (Kecamatan Darmaga dan Kecamatan Jasinga), Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Cianjur. Petani dan lokasi yang tepat untuk melakukan petak percontohan (demonstration plot) akan dipilih/diseleksi agar sasaran percepatan difusi Budidaya Padi S.R.I. ini tercapai.
Persyaratan dari lokasi yang akan dipilih antara lain adalah: (1). Sawah yang beririgasi baik sehingga pengairannya terjamin dan dapat diatur, (2). Daerah tersebut merupakan daerah yang bebas dari serangan hama seperti sundep dan wereng, (3). Petaninya terhimpun dalam suatu kelompok tan yang beranggotakan minimum 40 orangi, (4). Daerah tersebut merupakan hamparan yang luas (lebih dari 50 ha), (5) Di daerah tersebut belum pernah diperkenalkan Budidaya Padi S.R.I., (6). Petani/kelompok tani mempunyai respon yang baik terhadap perbaikan budidaya penanaman padi.

Tempat pelatihan petani (workshop) akan diadakan di Nagrak Organic S.R.I. Center (NOSC), yang terletak di Desa Petir, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi. Kantor Pusat dari NOSC ini adalah di Jl. Pangeran Antasari 48, Jakarta 12430, dengan Telepon 021-75819057 dan Faks 021-7691124 dan website: www.noscenter.com. NOSC mempunyai fasilitas latihan berupa bangunan untuk kuliah/diskusi, penginapan yang dapat menampung 60 orang peserta, lengkap dengan lahan sawah untuk praktek serta lokasi untuk pembuatan pupuk organik dan fasilitas lainnya. NOSC memiliki sejumlah instruktur yang sudah berpengalaman dalam Budidaya Padi S.R.I. tidak saja teori tetapi juga praktek. Selama ini peserta yang mengikuti pelatihan berasal dari Dinas Pemerintah seperti PU, Pertanian dan kelompok tani.

METODE DAN MEKANISME DIFUSI BUDIDAYA PADI S.R.I.
Pada tahun pertama, langkah-langkah yang akan dilakukan dalam mempercepat difusi Budidaya Padi S.R.I. adalah:

(1). Memperkenalkan Budidaya Padi S.R.I. yang benar kepada petani dengan membuat
petak percontohan (demonstration plot) S.R.I. di sentra pertanian padi;
(2). Melibatkan ketua kelompok tani dan petani secara langsung dalam melaksanakan
pembuatan petak percontohan ini;
(3). Memberikan pelatihan langsung mengenai Budidaya Padi S.R.I. melalui pelatihan
(workshop) yang dilengkapi dengan praktek langsung;
(4). Memberikan bimbingan langsung kepada petani yang sudah mengikuti pelatihan dalam
penerapan budidaya padi menurut S.R.I.
(5). Melakukan supervisi secara berkala selama pelaksanaan Budidaya Padi S.R.I.
(6). Mengadakan diskusi diantara petani pelaksana Budidaya Padi S.R.I. dengan
melibatkan petani yang belum melaksanakan Budidaya padi S.R.I.

Untuk tahun kedua percepatan difusi Budidaya Padi S.R.I. dilakukan melalui:
(1). Memperkenalkan budidaya padi S.R.I. kepada petani yang lebih banyak di sekitar
petani yang telah berpengalaman melaksanakan budidaya Padi S.R.I. melalui
kerjasama dengan petani yang sudah berpengalaman melaksanakan budidaya padi
S.R.I.;
(2). Menjadikan petani yang sukses dan berpengalaman dalam melaksanakan Budidaya
padi S.R.I. untuk menjadi instruktur budidaya padi S.R.I. di daerah lain di luar
kecamatannya;
(3). Memberikan bimbingan kepada petani yang melaksanakan S.R.I.
(4). Mengadakan diskusi diantara petani pelaksana Budidaya Padi S.R.I. mengadakan
perlombaan petani Budidaya Padi S.R.I. yang mendapatkan hasil tertinggi.

Peluang dan Pemasaran Produk dan Market Acceptance
Bisnis beras terutama beras yang diproduksi secara Budidaya Padi S.R.I. Organik akan meningkat dimasa yang akan datang. Saat ini kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi bahan pangan yang diproduksi secara organik makin bertambah karena perhatian terhadap kesehatan meningkat dan makin banyak orang yang mempunyai pendapatan yang cukup untuk memilih bahan pangannya.
Pasar untuk produk organik termasuk beras organik juga terbuka lebar. Pasar ini tidak hanya untuk konsumsi orang-orang yang termasuk kelas menengah ke atas di dalam negeri, tetapi juga permintaan beras organik luar negeri juga meningkat. Indonesia, sekalipun tiga tahun terakhir masih mengimpor beras, namun pada kenyataannya juga mengekspor beras terutama beras yang diproduksi khusus seperti beras organik.

Market Acceptance terhadap beras yang diproduksi menurut Budidaya Padi S.R.I. malah sangat baik karena kualitasnya yang ternyata lebih baik dibandingkan dengan beras yang diproduksi secara budidaya padi konvensional.

Kelayakan Komersial dan Bisnis
Beras yang diproduksi secara Budidaya Padi S.R.I. kualitasnya lebih baik dari beras yang diproduksi secara non-S.R.I. Oleh karena itu dapat dikatakan Budidaya Padi S.R.I. sangat layak untuk dikomersialkan. Bukan saja beras yang layak untuk dikomersialkan tetapi Program Pelatihan Budidaya Padi S.R.I. dapat dikelola secara komersial dan merupakan suatu bisnis yang menguntungkan. Petani yang sudah mempunyai ketrampilan dalam Budidaya Padi S.R.I. melalui jasa Pusat Pelatihan Budidaya Padi S.R.I. seperti NOSC juga bisa menjadi intruktur (pelatih) Budidaya Padi S.R.I. di luar daerahnya. Hal ini tentu merupakan mata pencaharian baru bagi petani dan bahkan mungkin lebih baik.





Bookmark and Share