Anda sekarang berada di sub halaman web: ARTIKEL

 

SRI sangat tepat untuk dorong swasembada tani
Tidak sulit untuk mewujudkan Program Peningkatan Produksi beras Nasional (P2BN) sebanyak 2 juta ton setiap tahun. Pasalnya, setelah 4 tahun terakhir dilakukan uji coba inovasi metode budadaya atau pola tanam padi dengan sistem SRI telah berhasil meningkatkan hasil panen padi hbsingga lebih dari dua kali lipatnya dibandingkan dengan sistem konvensional. Bila dengan pola sistem konvensional rata-rata hasilnya 4-5 ton/ha, maka hasil ujicoba dengan sistem SRI di wilayah Indonesia Timur menujukkan peningkatan yakni rata-rata 8-9 ton/ha.

“Melihat hasil ini saya optimis target P2BN tahun ini dapat terwujud. Bahkan target sebesar itu cukup hanya menerapkan pota tanam SRI di areal 500 ribu hektar saja,” tegas Direktur Irigasi, Moh. Hasan kepada pers di Jakarta, kemarin (24/5).

Diungkapkan, urusan masalah pangan menjadi tanggungjawab 3 Departemen yakni Departemen Pertanian terkait dengan budidaya, Departemen Pekerjaan Umum (teknologi) dan Departemen Dalam Negeri (kelembagaan). Menurut Moh. Hasan Indonesia merupakan negara yang ketergantungan pada beras tinggi, dibanding China, Thailand, India bahkan Jepang dengan konsumsi sekitar 139 kg/kapita/ton.

“Kami masih fokus diberas (padi), dan kenyataannya negara kita masih import. Sementara irigasi menyumbang 84% produk beras nasional,” ucap Direktur Irigasi.

Sebelumnya, Dirjen Sumber Daya Air Departemen PU Siswoko di depan anggota Komisi IV DPR RI pernah menegaskan pada tahun 2007 instansinya telah mengalokasikan dana Rp 6 Milyar untuk penanganan infrastruktur irigasi dari total kebutuhan 25 Milyar. Dana itu diambil dari dana cadangan bencana alam Direktorat Jenderal SDA.

Melalui pola tanam sistem SRI, Direktur Irigasi berharap masalah peningkatan produksi beras nasional (Swasembada) ditahun-tahun mendatang bakal dicapai kembali. Menurutnya, bila target 2 juta ton tahun ini bisa ditutup dengan areal 500 ribu hektar dengan sistem SRI, maka ditahun-tahun ke depan masalah penyediaan beras bukan lagi menjadi masalah nasional. “Kami sangat berharap pola tanam seperti ini dapat diterapkan di seluruh propinsi di tanah air,” harap Moh. Hasan, saat temu wartawan didampingi consultan dari Aliksa Organik Sri kemarin.

Berkat hasil ujicoba dengan pola SRI itu, tambah Hasan saat ini banyak investor yang mulai melirik untuk berinvestasi. Bahkan di pasar Singapura kualitas dari SRI saat ini tengah diperhitungkan. Pasalnya, selain berasnya pulan, juga tahan hingga 3 hari. Meski demikian dana pinjaman asing untuk mendukung sektorini dinilai kurang tepat. Meski diakuinya percepatan pembangunan irigasi di luar jawa (KTI) juga membutuhkan dana cukup besar.

Pada awal 2005 Ditjen SDA menargetkan pada 2009 luas irigasi akan mencapai 7,2 ha. Hingga saat ini telah terbangun jaringan irigasi 6.7 ha dengan rincian kondisinya rusak (1,5 juta ha), Kondisi baik (5,2 juta ha) dimana 0,3 juta ha diantaranya belum sawah.

Pemenuhan ketersediaan airnya (11,89%) berasal dari waduk dan (88,11%) non waduk. Artinya, etersediaan air untuk irigasi masih tergantung pada aliran air secara alamiah. Pemerintah akan merehabilitasi 1,5 juta ha jaringan irigasi teknis yang rusak akibat minimnya dana pemeliharaan selama 7 tahun terakhir akibat krisis ekonomi. Selain itu Pemerintah juga akan mengembangkan 500 ribu ha jaringan irigasi baru.

Dalam mendukung Program P2BN peran Departemen PU khususnya untuk percepatan rehabilitasi dan operasi pemeliharaan jaringan irigasi, sangat diharapkan mengingat masalah itu merupakan komponen penting dalam pertanian. Moh. Hasan menambahkan anggaran tahun 2008 untuk irigasi meningkat sekitar 40% menjadi Rp 3,4 triliun dari tahun 2007. Prasarana irigasi dinilainya belum optimal. Karena belum direhabilitasi 300 ribu ha. Padahal setiap tahunnya diperkirakan terjadi kerusakan antara 600 – 700 ribu ha. “60% potensi irigasi ada di Pulau Jawa. Oleh karena itu akan kita tingkatkan,”tegasnya.

Sementara itu Kepala Balai Aliksa Organik SRI, Alik Sutaryat menyatakan saat ini tercatat sebanyak 7,200 anggota petani dari kelompok pola SRI. Hasil ujicoba yang ditanganinya di Ciamis, Tasikmalaya, Sukabumi menunjukkan hasil panen diatas rata-rata 8 ton/hektar. Padahal selisih untung dari hasil panen dengan sistem SRI mencapai Rp 2 juta lebih, untuk setiap hektar, dibanding dengan pola konvensional.

Dijelaskan, metode transplantasi yang diterapkan satu benih per lubang, usia benih 7-14 hari dan jarak tanam longgar 30 cm X 30 cm ditambah dengan pemberian air terputus-putus tanpa genangan di petak sawah. Efisiensi air yang bisa dihemat dengan pola SRI mencapai 30 – 50 persen dari sistem konvensional.

Pengukuran sudah dilakukan sejak tahun 2004 lalu. Penghematan terlihat dari sedikitnya air yang dibutuhkan pada saat; penyiapan lahan tanam, persemaian, tidak ada genanganan dengan adanya sistem irigasi intermiten. Alik Sutaryat juga menegaskan, dalam genangan petak sawah cukup air setinggi 2 cm (konvensional 5 cm). Pola SRI tidak membutuhkan genangan air secara terus menerus melainkan terputus-putus (kadang berair/tidak) dan tidak menggunakan pupuk kimia.

Pupuk yang digunakan hanya organik. Pola SRI telah dan terus akan dilaksanakan di 8 propinsi yang tersebar di Pulau Bali, Nusatenggara, dan Sulawesi. “8 ton per ha adalah hasil minimal yang pernah dicapai,” ujar Alik. (Sony)
(Sumber: http://www.pu.go.id/index.asp?link=Humas/news2003/ppw250507son.htm)

Bookmark and Share